Filantropi dalam Arus Sejarah Islam dan Relevansinya terhadap Dunia Profesional

Ciputat– MSKI UIN Jakarta (07/8), Praktik kedermawanan dalam Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) atau sekarang lebih populer dengan istilah filantropi Islam merupakan sebuah kajian penting dalam arus sejarah Islam. mengingat dalam Islam sendiri posisi keimanan seorang muslim tidak dapat dinilai sempurna hanya sebatas taat kepada Tuhannya, namun juga diukur dari tingkat kepedulian sosial sesama manusia.
Dewasa ini, pertumbuhan praktik filantropi Islam tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga berkembang dengan berdirinya lembaga-lembaga amil zakat, infaq, sedekah dan wakaf yang begitu pesat, khususnya di Indonesia. Fenomena ini menjadikan kalangan akademisi untuk mengkaji lebih dalam tentang filantropi yang terjadi di masyarakat. Selain itu, kampus yang merupakan dunia akademik tidak luput untuk ikut andil terhadap kajian fenomena perkembangan filantropi tersebut.
Prodi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam sebagai lembaga akademik turut berperan aktif dalam pengkajian filantropi Islam. Hal ini tercermin dari kurikulum yang mencantum kajian filantropi Islam sebagai salah satu mata perkuliahan. Dengan adanya mata kuliah filantropi Islam tersebut memberi kesempatan bagi mahasiswa terutama mereka yang menggeluti dunia filantropi untuk lebih membekali diri, baik secara expertise akademis maupun dunia profesional melalui studi historis.

Bertolak dari latar belakang tersebut, Prodi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam (MSKI) berkolaborasi dengan Social Trust Fund UIN Jakarta, STF UIN Jakarta, Forum Zakat (FOZ), Sekolah Amil Indonesia (SAI), Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Dompet Dhuafa mengadakan talkshow dengan tema berjudul Filantropi dalam Arus Sejarah Islam dan Relevansinya terhadap Dunia Profesional”. Narasumber dalam seminar ini adalah Nana Sudiana (Mahasiswa MSKI, Direksi IZI, Associate Expert FOZ); Haryo Mojopahit (Mahasiswa MSKI, Manajer DMC Dompet Dhuafa); Citra Widuri (Ketua Bidang Inovasi FOZ, Direksi Lembaga Manajeman Infaq (LMI) LAZNAS, Asesor Amil Zakat); dimoderatori oleh Fahrizal Amir (Kepala Sekolah Amil Indonesia). Turut hadir pula Prof. Amelia Fauzia, M.A (Ketua Prodi MSKI FAH UIN Jakarta, Direktur Social Trust Fund UIN Jakarta) yang memberikan pengantar dalam acara talkshow tersebut.

Talkshow ini dibuka oleh MC Febria Afia Rahma (Social Trust Fund UIN Jakarta) kemudin dilajutkan dengan sebuah pengantar dari Prof. Amelia Fauzia, M.A,. PhD  selaku Ketua Prodi MSKI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam pengantarnya, Kaprodi berbicara fenomena filantropi dalam perspektik sejarah Islam dan bagaimana pentingnya studi tersebut. Prof. Amelia menyampaikan fenomena filantropi adalah fenomena yang sangat penting dalam keseharian kita. Terlebih dalam konsep Islam filantropi begitu kuat baik dari sisi ajaran maupun tradisi Islam. Dalam agama Islam filantropi dilembagakan dengan baik, dengan adanya badan zakat dan wakaf.

“filantropi adalah satu fenomena yang sangat penting dalam keseharian kita. Terlebih dalam konsep Islam filantropi begitu kuat dari sisi ajaran, dari tradisi Islam bahkan senyum saja sedekah. Ini bagi saya adalah hal luar biasa.” Pungkasnya.

Praktik filantropi telah ada sejak dahulu. Sejarah mencatat praktik kedermawanan di masa lalu seperti adanya wakaf buku, wakaf gandum sudah ada sejak zaman nabi di Mekah dan Madinah.

Di Indonesia sendiri, studi filantropi saat ini menjadi kajian yang sangat penting. Terlebih Indonesia merupakan negara terbesar penganut agama Islam terbesar di dunia.  Selain itu, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia versi Badan amal Charities Aid Foundation (CAF) berdasarkan World Giving Index yang dikeluarkan pada Senin 14 Juni 2021. Oleh sebabnya, studi filantropi di Indonesia menjadi sangat penting dan menjadi distingsi budaya Islam di Indonesia

Haryo Mojopahit mengemukakan, studi filantropi dapat didekati dengan banyak ilmu, baik sosial, ekonomi, psikologi, maupun sejarah. Misalnya di dalam buku The Science of Giving menjelaskan bahwa filantropi dikaji dari sisi psikologis. Dari sisi sejarah misalnya buku Filantropi Islam: Sejarah dan Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia oleh Amelia Fauzia yang menyajikan penelusuran historis yang komprehensif.

Haryo menyebut beberapa setidaknya ada beberapa keuntungan yang didapat dalam kajian filantropi dari studi historis. Pertama membaca permasalahan di masyarakat dari sisi historis.

“Ketika melihat permasalahan di masyarakat maka harus melihat ke belakang yaitu melihat dari sudut pandang sejarah” ujarnya.

Dari sudut pandang metodologi itu membahas tentang bagaimana mencari sumber, metode, teori, melakukan interpretasi dan menuliskan interpretasi tersebut ke dalam tulisan sejarah.  Oleh karenya, studi sejarah memberikan pengetahuan tentang kajian filantropi yang sedang dilakukan. Sejarah dapat melihat akar dari permasalahan yang sedang terjadi.

Pembicara selanjutnya, Citra Widuri menjelaskan konsep Connecting the dots. Banyak titik-titik bersejarah yang menjadi knowledge, kemudian knowledge ini bagi praktisi filantropi harus dihubungkan sebagai sebuah experience. Selain itu, Citra mengingatkan dalam bidang profesional para amil perlu exercise dalam pengelolaan dana Islam untuk menyelesaikan permasalahan umat.

Pembicara terakhir, Nana Sudiana menjelaskan filantropi sebagai merupakan obat bagi kapitalisme dan cara untuk menjawab banyak persoalan manusia. Filantropi tidak membedakan kemanusiaan dan umat, dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Dengan belajar sejarah kita dapat mengetahui filantropi memiliki potensi untuk melawan negara jika tidak diawasi, maka perlu pengelolaan yang tepat dan optimal.

Nana menyampaikan tentang perlunya pendekatan sejarah untuk mensistem tata kelola dan standarisasi, termasuk dalam mendesign kurikulum akhlak para tenaga amil. Jika cara ini berhasil Indonesia ke depan akan menjadi kiblat Islam di dunia internasional.