Perkuliahan Dimulai, Prodi MSKI dan MBSA Gelar Orientasi Akademik untuk Mahasiswa Baru (2021)

Ciputat, MSKI UIN Jakarta. Orientasi akademik menjadi momen untuk memperkenalkan ke mahasiswa baru tentang kehidupan perkuliahan. Lewat momen ini, mereka dapat memahami seluk-beluk kampus dengan menyimak berbagai narasumber yang bertanggungjawab dengan urusan akademik maupun administratif.

Berkenaan dengan hal di atas, dua program studi magister di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yakni Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam (MSKI) dan Magister Bahasa dan Sastra Arab (MBSA), ini baru saja mengadakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada hari Kamis dan Jum’at (2-3/9). Momen ini menjadi penanda bagi dimulainya perkuliahan jenjang magister di FAH UIN Jakarta. Selama dua hari para mahasiswa baru MSKI dan MBSA mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk mengetahui tradisi akademik di kedua prodi ini.

Di hari pertama, Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, membuka kegiatan ini. Rektor perempuan UIN Jakarta pertama tersebut menekankan pentingnya serius sejak awal masuk perkuliahan. “Kita teguhkan niat dari awal, kita masuk untuk cepat selesai,” ujar dirinya. Dia menambahkan agar mahasiswa juga mulai mencari tema yang ingin dikaji sejak awal. Hal ini agar mahasiswa diharapkan bisa mampu menyelesaikan studinya tempat waktu. Studi magister, menurutnya juga, menjadi langkah awal bagi mahasiswa dalam mengembangkan sebuah kebaruan ilmu, ekspertise, dan wawasan yang semakin luas.

Senada dengan Amany, Dekan FAH UIN Jakarta, Saiful Umam, juga menekankan bagaimana pentingnya menumbuhkan semangat keilmuan. Menurutnya, studi magister merupakan langkah untuk lebih mendalami lagi substansi. “Berbeda dengan studi sarjana, belajar di jenjang magister lebih untuk meningkatkan skill penelitian,” kata Saiful. Dia juga menambahkan para mahasiswa baru akan mendapat bimbingan langsung dari tenaga-tenaga pengajar profesional. “Tenaga pengajar di magister adalah dosen-dosen yang kalibernya sudah nasional, bahkan internasional, dan kalau di googling, itu banyak sekali muncul informasi mengenai mereka,” ujarnya.

Sesi selanjutnya adalah pemaparan dari masing-masing ketua prodi. Amelia Fauzia, ketua prodi MSKI, menekankan tujuan MSKI yang berupaya menjadi kawah candradimuka dalam menelurkan Prof. Azyumardi Azra selanjutnya. “”Kita berupaya mencetak sejarawan seperti Prof. Azyumardi Azra ketika S2 dulu,” kata Amel. Sampai sejauh ini, MSKI menurutnya sudah mencetak sejarawan hebat dari berbagai latar belakang. Mulai dari manajer di lembaga zakat, entrepreneur, hingga bahkan aktivis budaya. Sementara itu, Adib Misbach selaku ketua Prodi MBSA, menekankan bahwa untuk mencetak lulusan hebat juga harus membantu mahasiswa mempunyai manajemen waktu yang baik. Hal ini supaya tidak ada kasus dropout (DO) di kemudian hari.

Mahasiswa juga dapat bertanya lebih jauh pada sharing experience belajar di magister. Di sesi ini, dua dosen yang mengenyam pendidikan dari dunia yang beda membagikan pengalaman mereka studi di Barat dan Timur. Usep Abdul Matin bercerita tentang tantangan studi magister tentang Islam di Universitas Leiden. Menurut Usep, mahasiswa harus mampu memetakan semua sarjana dalam tradisi Islam, mulai dari yang klasik sampai modern, agar bisa menghasilkan studi yang distingtif. Sementara itu, Ade Asnawi yang menempuh studi di Marok bercerita bahwa kultur studi di Maroko mewajibkan mahasiswa untuk mempunyai publikasi internasional sebelum bisa lulus. Kedua pembicara ini juga menekankan bahwa studi di MSKI dan MBSA menjadi kelebihan tersendiri karena mahasiswa bisa mendapatkan tradisi menuntut ilmu di Barat dan Timur secara bersamaan.

Siang sampai sore hari acara dilanjut oleh tiga pembicara, dua dari UIN Jakarta Prof. Oman Fathurahman dan Prof. Azyumardi Azra, CBE serta pembicara dari Oslo, Norwegia Dr. Kaja. Di sesi ini Prof. Oman menjelaskan mengenai Islam and Humaniora: What, Why, How? Selain itu, ia juga menyinggung sedikit Awal Pengaruh Arab dan Persia dalam Manuskrip Nusantara setelah abad 15 dan Prof. Azra menjelaskan tentang pancaragam Ekspresi dan distingsi Islam di Nusantara khusunya Islam di Indonesia. Dr. Kaja menjelaskan term “everyday religion” dalam pendekatan sosial science. Studi sosiologi agama merupakan isu yang penting dalam dinamika masyarakat.

“Diskusi yang insightfull, diskusi yang tidak saja memberi kita informasi, tapi juga pertanyaan-pertanyan lanjutan yang mendorong kita untuk membaca, riset dan menjawabnya. Poin yg tdk kalah penting dari penyampaian tiga pembicara, yakni ttg diversity, keragaman, yang memperlihatkan bahwa religion is matter! Agama itu penting. Dan tentunya studi tentang agama juga penting sekali.” Ujar Prof. Amelia Fauzia kaprodi MSKI usai acara.

Di hari kedua, acara dimulai sejak pagi diawali dengan perkenalan antar mahasiswa melalui breakout room Zoom dimana setiap mahasiswa akan dikelompokkan sesuai prodi masing-masing. Kemudian dilanjutkan sesi diskusi “How to Search for Online Academy Resources and Avoid to Plagiarism?” oleh Dr. Alfida sebagai narasumber dan diskusi “Academic Culture: Balancing between studies, research, publication and non-academic activities” oleh Yeni Ratna Yuningsih, PhD selaku nrasumber.
Kemudian pada siang sampai sore hari acara diisi oleh tiga pembicara, Jajang Jahroni, PhD pada sesi diskusi “How to Write Academic Papers” dan dua alumni Nurul Masyitah M.Hum dan Bambang Permadi M.Hum untuk sesi diskusi “Learning at MBSA/MSKI.” Diskusi ini memberi informasi pentingnya mengasah skill akademik dan produktif dalam mempublikasikan paper ilmiah serta strategi management waktu untuk sukses diperkuliahan.
Terakhir, acara ditutup dengan doa dan pesan-pesan dari Ida Farida, M.LIS selaku wakil dekan bidang akademik.

Ingin tau keseruannya, Yuk tonton videonya melalui link di bawah ini.

link youtube:

#Day 1: https://www.youtube.com/watch?v=jygBh8nEPVk&t=22808s

#Day 2: https://www.youtube.com/watch?v=HgDIdPs-wDI