Petuah Sang Begawan: Taufik Abdullah dan Masa Depan Sejarawan Peradaban Islam

Terbit di: dalam Susanto Zuhdi et al. (editor), 85 Tahun Taufik Abdullah: Perspektif Intelektual dan Pandangan Publik, Yayasan Obor Indonesia, h. 147-152. (Photo: AMINEF)

Endi Aulia Garadian

9 November 2021

“Endi, kamu mau menulis tentang Pak Taufik Abdullah?”, ucap seorang guru dan mentor, pak Jajat Burhanudin. “Kita butuh pandangan millenial tentang beliau nih”, lanjut Pak Jajat. Rencananya, akan ada penulisan buku sebagai bentuk sagu hati untuk Pak Taufik Abdullah. Para sahabat, kolega, dan murid-murid Pak Taufik Abdullah akan memberikan persembahan terbaik di umurnya yang ke 85, imbuhnya. Seketika itu, mulut saya spontan mengiyakan permintaan tersebut. Selain datang langsung dari seorang yang sangat saya hormati, karakter yang ditulis pun orang super istimewa. Betapa tidak? Taufik Abdullah adalah nama yang familiar bagi banyak orang, terutama di lingkaran para sejarawan Indonesia, dan bahkan dunia.

Setelah permintaan itu dilontarkan, saya merasa sangat girang. Pikiran saya melejit ke sana ke mari, memikirkan tulisan apa yang bisa saya agihkan sebagai sebuah bingkisan, dan tentunya tetap layak dibaca Pak Taufik. Setelah mengorek relung memori sesaat, tetiba saya teringat pada sebuah momen yang terjadi di Hari Sejarah 2019. Saat itu, Pak Taufik Abdullah memberi petuah yang tidak bisa saya lupakan sampai sekarang. Selain mengilhami, perkataannya telah mendorong saya untuk terus berkarya mewarnai historiografi Indonesia. Dan paling penting membuat saya tidak minder sebagai sejarawan (masih kaleng-kaleng) millenial yang datang dari kampus Islam. Oleh karena itu, coretan ini menjadi cinderamata sekaligus rasa hormat saya kepada Pak Taufik Abdullah.

Representasi Sejarawan Millenial dari Kampus Islam

Sebelum bercerita lebih jauh tentang detik-detik di Hari Sejarah 2019, rasanya penting untuk mendudukkan diri saya terlebih dahulu dalam konteks yang agak luas. Boleh dibilang, dalam tulisan ini saya mencoba merepresentasikan orang-orang yang belajar sejarah di kampus Islam. Semenjak lulus dari jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI)[1] di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saya tidak pernah punya keinginan muluk menjadi sejarawan. Pasalnya, saya, dan juga kebanyakan orang dari prodi ini, tidak merasa percaya diri bersaing secara akademis dengan teman-teman dari Prodi Ilmu Sejarah di kampus-kampus beken seperti UI, UGM, UNPAD, dan sebagainya. Kami bahkan minder dengan teman-teman yang bertapa di Prodi Pendidikan Sejarah di kampus-kampus keguruan.

Alasannya sederhana saja. Kami belajar wawasan kesejarahan yang ada di luar arus utama. Ketika orang-orang lain sangat tekun mempelajari sejarah Indonesia, kami justru belajar sejarah Islam di tanah Arab sana. Nama-nama seperti Phillip K. Hitti, Chase F. Robinson, dan Fred Donner lebih akrab di telinga kami. Sementara nama seperti Adrian B. Lapian, R.Z Leirissa, Mona Lohanda, dan sederet sejarawan Indonesia lainnya, merupakan nama yang asing bagi kami, dan terutama buat saya. Beruntung saya bisa mulai mengenal sosok tersebut lebih dekat setelah bersemedi di Ilmu Sejarah UI sebagai mahasiswa magister. Makin mujur, saya juga mendapat guru yang sangat baik, Pak Susanto Zuhdi. Tapi bagaimana dengan teman-teman yang lain di Prodi SPI? Tentu ada yang kenal, tapi lebih banyak yang tidak mengenal.

Taufik Abdullah jelas masuk ke dalam radar kami. Wajahnya kerap menghiasi layar televisi dan opini-opini media. Salah satu karya legendaris yang dieditorinya, Sejarah Lokal di Indonesia (1985), menjadi buku pegangan untuk mata kuliah Sejarah Indonesia. Jadi kami mengenal beliau.

Walakin, fakta tersebut tidak membuat kami yang belajar di SPI menjadi lebih percaya diri. Dalam perjumpaan forum akademik mahasiswa atau sejarawan nasional, misalnya, kami lebih sering memposisikan diri sebagai pendengar yang setia, terutama bila obrolannya berkutat pada sejarah Indonesia. Tentu saja nama-nama besar yang disebut seperti Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, kami mafhum. Tapi banyak narasi-narasi sejarah yang lebih parsial yang tidak kami ketahui. Kami lebih akrab dengan narasi Islamisasi di Nusantara.

Bekal pengetahuan kami cukup luas tentang isu ini. Mengingat penduduk mayoritas di Indonesia adalah Muslim, maka di atas kertas, seharusnya narasi sejarah Islam yang berada di tengah-tengah pembicaraan. Tapi faktanya, narasi sejarah Islam masih sangat terpinggir. Narasi kesejarahan mengenai pembentukan negara bangsa (state formation) masih didominasi oleh cerita-cerita yang jarang sekali meletakkan Islam sebagai sebuah ide dari terbentuknya Indonesia. Maka tidak heran bila film yang dibuat oleh kelompok pro-khilafah dengan judul Jejak Khilafah di Nusantara––yang ditayangkan bertepatan pada 1 Muharram 1422 (20 Agustus 2020)––diamini banyak orang. Padahal sebagian besar narasi yang disampaikan oleh film tersebut jauh api dari panggang.

Sejarawan dari Pinggir

4 Desember 2019 menjadi momen titik balik buat saya. Di Hari Sejarah 2019 itu, saya mendapat kesempatan memaparkan salah satu gagasan saya tentang peran dosen sejarah, terutama di kampus-kampus Islam. Kala itu saya kedapatan Panel 5 dengan tajuk “Memasyarakatkan Sejarah”. Saya tegang karena rekan-rekan di panel tersebut adalah sejarawan nasional yang sudah melangit namanya. Saya pun semakin gugup karena Pak Taufik Abdullah menjadi salah satu pemirsa dalam panel tersebut, dan dirinya menjadi pemirsa yang datang paling pertama! (betapa tepat waktunya beliau, salute…)

Saya masih ingat, saya mendapat giliran presentasi setelah Pak Purnawan Basundoro dan Pak Andi Achdian. Memasuki sesi tanya jawab, Pak Taufik mendapat kesempatan pertama. Semua sejarawan beken yang sepanel dengan saya diberi tanggapan, dan beberapa di antaranya dikritik. Sampai pada giliran saya, beliau justru bercerita. Pak Taufik bercerita cukup panjang tentang dirinya yang menulis skripsi berbahasa Inggris, dan cerita lainnya tentang dirinya yang mendobrak kebiasaan dengan menulis sejarah Eropa. Meski tidak biasa, Ia tetap menjalankan semua itu. Dari cerita tersebut, saya berusaha menangkap pesan besarnya: menggeser apa yang kita perjuangkan dari pinggir ke tengah tidaklah mudah.

Pak Taufik kembali melanjutkan kisahnya. Saat ini, sejarawan-sejarawan di Indonesia yang baik justru lahir dari pinggir. Dari kampus yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Saya bingung dan mencoba menerka makna dibalik pernyataan Pak Taufik tersebut. “Sekarang, kampus-kampus Islam seperti IAIN, UIN, itu bisa mencetak sejarawan yang andal. Bahkan tak jarang kualitasnya lebih baik dari kampus-kampus umum,” tambahnya. Pak Taufik kemudian menyebut nama Pak Azyumardi Azra, Pak Jajat Burhanudin, Pak Oman Fathurahman, sebagai contoh baik yang dilahirkan dari kampus Islam. Reputasi mereka internasional, imbuhnya. “Studi tentang sejarah pemikiran Islam mulai bermunculan dari orang-orang IAIN (red: UIN),” teguhnya.

Kata demi kata terus terucap dari Pak Taufik saat itu tentang sejarawan dari UIN, tapi ingatan saya cukup samar untuk mendetilkannya. Toh, apa dan siapa yang diceritakan sebetulnya sangat dekat dengan saya, dan semuanya menjadi mentor-mentor saya selama ini. Hanya saja, ada satu kalimat yang membuat saya terkesan, dan saya yakin membanggakan seluruh sejarawan peradaban Islam dari kampus Islam. Dengan gayanya yang khas, beliau berujar: “sekarang, dari IAIN, dari kampus yang dianggap pinggiran itu, mulai muncul sejarawan yang terlatih dan berkualitas secara akademis”.

Saya tertegun sejenak. Mencoba memproses secepat mungkin kata-katanya waktu itu. Senyum mulai menyimpul perlahan, namun saya agak tahan-tahan agar tidak terkesan kegeeran. Terpikir kala itu bahwa kata-kata Pak Taufik tersebut sudah menjadi semacam petuah indah. Barangkali, ini menjadi salah satu tinggalan (legacy) dari Pak Taufik yang akan selalu saya ingat. Bahkan di setiap awal perkuliahan, petuah tersebut selalu saya sampaikan di ruang kelas, berharap para mahasiswa di jurusan SPI tidak minder dan semakin semangat belajar sejarah Islam. Pada titik tertentu, saya menjadi seperti Nabi yang menyampaikan pesan Ilahiah.

Taufik Abdullah dan Sejarah Islam

Sosok Pak Taufik Abdullah tidak henti-hentinya memberi inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Saya kembali teringat ketika pertama kali mengabdikan diri sebagai peneliti muda di lembaga penelitian bernama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Karena diisi dari orang-orang yang berbeda latar belakang, kami sering mengkalibrasi diri dengan mempertemukan bacaan masing-masing pada sebuah diskusi.

Kala itu tema diskusinya adalah Islam dan Demokrasi. Kawan yang lain memilih ahli-ahli ilmu politik yang membicarakan tema tersebut. Kalau saya tanpa ragu memilih buku Pak Taufik Abdullah yang berjudul Indonesia: Towards Democracy (2009). Singkatnya, kawan-kawan saya yang lain terpukau dengan penjelasan historis (historical explanation) tentang tema tersebut. Saya menjelaskan salah satu argumen buku itu yang mengatakan bahwa Indonesia sempat memasuki fase “The Greedy State” di Era Orde Baru, dan memunculkan musuh-musuhnya dimana salah satunya dari kalangan Islam. Fase ini pada gilirannya menjadi salah satu fase dalam pembangunan bangsa (nation-building) yang melahirkan demokrasi yang sehat di kemudian hari.

Kemudian saat menulis tesis tentang kas masjid di Hindia Belanda, saya semakin sering mendalami alam pikir Pak Taufik Abdullah. Saya juga jadi tahu bahwa banyak artikel-artikelnya lahir dari proses pengerjaan disertasinya yang berjudul Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra, 1927-1933 di Cornell University. Tulisannya tentang Adat and Islam (1966), sebagai misal, memberikan cara pandang untuk saya dalam membaca hubungan adat dan Islam di Jawa. Banyak tulisan lainnya yang bernas, dan hampir semuanya membahas persoalan Islam dalam sejarah.

Bila boleh berseloroh, sederhana saja, sejarah Islam adalah karya yang di dalamnya mengupas dinamika masyarakat Muslim di sebuah wilayah pada masa lampau. Maka berangkat dari sini, banyak karya dari Pak Taufik boleh dikatakan sebagai karya sejarah Islam, yang kemudian menjadi partikel-partikel yang menyusun bangunan besar historiografi Islam Indonesia. Pak Taufik sudah menjadi patron yang Menyusun bangunan ini. Akademisi-akademisi IAIN, kemudian UIN, malah baru belakangan menyusul jejak langkah Pak Taufik. Ia sangat piawai dan sudah sangat patut bila dikatakan sebagai salah satu begawan yang membangun argumen-argumen besar dalam historiografi Islam Indonesia. Menjadi salah satu editor utama di edisi berjilid-jilid Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia (SKII) adalah buktinya.

Goresan Akhir

Lewat pelbagai magnum opusnya, terutama dari petuahnya buat saya pribadi, sang begawan meyakinkan saya bahwa masa depan sejarawan peradaban Islam tidak muram. Seorang Taufik Abdullah sudah membuktikan itu. Dia sendiri, boleh dibilang, menjadi salah satu “sejarawan peradaban Islam” yang sukses dalam kancah sejarah lingkup internasional, apalagi nasional. Tentu perjalanan hidupnya dalam jalur keilmuan menjadi pembelajaran yang punya makna penting bagi para sejarawan, maupun calon sejarawan, yang sedang bertapa di kawah candradimuka bernama Sejarah Peradaban (Kebudayaan) Islam.

Akhirulkalam, saya ucapkan berterimakasih sebesar mungkin atas ilmu-ilmunya selama ini. Gagasan Pak Taufik sudah menjadi suar di kegelapan. Karya-karyanya juga telah menjadi inspirasi bagi kami sejarawan millenial. Saya yakin, bekal dari Pak Taufik sudah lebih dari cukup untuk kami melanjutkan estafet dalam mengembangkan sejarah, terspesifik ilmu sejarah, di Indonesia. Barakallahu fii umrik, wahai Begawan!

[1] Prodi yang setaraf dengan SPI adalah Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI).

Endi Aulia Garadian is a Lecturer in Islamic History and Civilization, Faculty of Adab and Humanities, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. His research focuses on colonial studies and big data for historical studies.

The facts and views expressed are solely that of the author/authors and do not necessarily reflect that of MSKI. No part of this publication may be reproduced in any form without permission.