Mengajar dan belajar Islam di Timur dan Barat

Melihat perkembangan Islam sebagai sebuah pembelajaran yang berpengaruh dalam dunia modern, membuat banyak literatur serta lembaga pendidikan berfokus kepada studi Islam. Studi Islam secara signifikan sangat penting dikaji dalam melihat keadaan manusia yang sama dengan nilai-nilai kontemporer yang bisa di analisis dengan pendekatan sejarah, budaya maupun politik. Lebih dari itu, ini menunjukan bahwa tampaknya ada peningkatan minat baik di dalam maupun di luar terkait dengan studi Islam.

Dengan argumen tersebut, Prodi Magister Sejarah dan Kebudayaan Islam mengadakan kuliah umum dengan topik berjudul “Teaching and Learning Islam in the East and the West”. Menghadirkan salah seorang akademisi yang ahli terhadap bidang ini, Mohamed Elarabawy Hashem. Mempunyai pengalaman mengajar dan belajar di dunia Timur dan Barat, Mohamed Elarabawy Hashem merupakan akademisi dengan spesialisasi terjemahan teks Islam (Translation of Islamic Texts) yang mumpuni. Ini dibuktikan ketika ia melanjutkan studi Master di universitas Leiden dan Ph.D di universitas Birmingham.

Mohamed Elarabawy Hashem menjelaskan bahwa belajar studi Islam di Timur mempunyai keunggulan dengan sumber-sumber primer yang melimpah. Dalam sisi yang lain, metodologi serta teori-teori pada pengajaran di Barat lebih terstrukur serta bebas dalam mengkaji Islam sebagai sebuah pendekatan dan pembelajaran.

Kuliah umum ini dibuka oleh Prof. Amelia Fauzia, M.A,. PhD  selaku Ketua Prodi MSKI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan di moderatori oleh Dr. Halid M.Ag.. Dalam pembukaan kuliah umum ini, Kaprodi berbicara mengenai pentingnya belajar Islam dalam persepektif Timur dan Barat. Dalam perspektif sejarah Islam, penting melihat metodologi dan analisis dari kedua dunia yang berbeda ini. Selain itu, Prof. Amelia menyampaikan bahwa belajar studi Islam bisa dilakukan dimanapun karena teknologi sudah memfasilitasi berbagai macam sumber baik Timur maupun Barat.